TAWAKAL DAN CINTA
Nama :
Asnitha Aritonang
NIM : 0705162018
Prodi : FISIKA
Fakultas : Sains & Teknologi
Semester : 2 (Dua)
Peguruan Tinggi : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen : Dr.Ja’far, MA.
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
NIM : 0705162018
Prodi : FISIKA
Fakultas : Sains & Teknologi
Semester : 2 (Dua)
Peguruan Tinggi : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen : Dr.Ja’far, MA.
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA
: Tawakal dan Cinta
Buku 1
: Gerbang Tasawuf (Dimensi
Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi)
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Tawakal
Berasal dari
bahasa arab, wakila, yakilu, wakilan yang berarti “mempercayakan,
member, membuang urusan, bersandar, dan bergantung,” istilah tawakal disebut di
dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuk sebanyak 70 kali. Dalam bahasa Indonesia,
tawakal adalah “pasrah diri kepada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati
kepada Allah (dalam penderitaan dan sebagainya), atau sesudah berikhtiar baru
berserah kepada Allah.” Diantara kata tawakkal yang digunakan dalam Al-Qur’an
yakni wakkalna sebanyak 1 kali, wukila sebanyak 1 kali, tawakaltu
sebanyak 7 kali, tawakalna sebanyak 4 kali, natawakalna sebanyak
5 kali, tawakkal sebanyak 11 kali, wakila sebanyak 13 kali, al-mutawakkilun
sebanyak 3 kali, dan al-mutawakklin sebanyak 1 kali. Data ini
menegakkan bahwa ajaran islam menghendaki para salik untuk menegakkan dan
mendapatkan maqam tawakkal.
Tawakkal merupakan
maqam atau kedudukan spiritual yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin
mendekatkan diri kepada Allah. Apakah yang dimaksud tawakkal itu? beberapa
pengertian tawakkal yang dikemukakan oleh para sufi yaitu sebagai berikut:
Menurut Ibnu Ujaibah, tawakkal adalah kepercayaan hati terhadap Allah, sampai
dia tidak bergantung kepada sesuatu selain-Nya. Dengan kata lain, bergantung dan
bertumpu kepada Allah dalam segala sesuatu, berdasarkan pengetahuan bahwa Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu. Selain itu, tawakkal juga menuntut subjek untuk
melebihkan semua yang ada dalam kekuasaan Allah lebih di percaya dari pada yang
di tangan subjek. Menurut Muhammad Ibn Ash-Shidiqqi, tawakkal adalah engkau
mencukupkan diri dengan pengetahuan Allah tentang dirimu, dari ketergantungan
hatimu kepada selain-Nya, Dan engkau mengembalikan segala sesuatu hanya kepada
Allah. Menurut Abu Said Al-Kharraz, tawakkal adalah percaya kepada Allah,
bergantung kepada-Nya, dan tentram terhadap-Nya dalam menerima segala
ketantuan-Nya, serta menghilangkan kegelisahan dari dalam hati terhadap perkara
duniawi, rizki, dan semua urusan yang penentunya adalah Allah (Isa, 2010: 261).
Cinta (al-mahabbah)
Menurut
al-Ghazali, al-mahabbah adalah maqam sebelum rida. Kaum sufi mendasari
ajaran mereka tentang cinta dengan Al-Qur’an, hadis, dan atsar. Diantara
dalilnya adalah Q.S. al-Ma’idah/5:54; Q.S. al-Shaff/61:4; dan Q.S. Ali Imran/3:31.
Kata cinta disebut dalam Al-Qur’an secara berulang kali, meskipun tidak hanya
dalam makna cinta kepada Allah swt. Sebagaimana yang dimaksudkan oleh kaum
sufi. Kata hub disebut Al-Qur’an sebanyak 99 kali dalam berbagai bentuk
kata, antara lain hub dan yuhibbu sedangkan dalam kata al-mahabbah
tidak digunakan Al-Qur’an.
Mahabbah yaitu
sutu kondisi spiritual rasa cinta seorang hamba kepada Allah swt. Diantara
orang-orang yang beriman kepada Allah ada orang yang memiliki rasa cinta yang
mendalam kepada Allah swt. Hal ini didasarkan pada firman Allah yang ada dalam
Al-Qur’an: “maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan mereka pun mencintai-Nya”. (Q.S. Al-Ma’idah:54). Dalam ayat yang
lain dijelaskan pula: “mereka mencintai (sesembahan selain Allah) sebagaimana
mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih berat cintanya
kepada Allah” (Q.S. Al-Baqarah: 125).
Yang dimaksud mahabbah
bagi seorang hamba yaitu: “melihat dengan kedua matanya terhadap nikmat yang
Allah karuniakan kepadanya. Dan dengan hati nuraninya ia melihat kedekatan
Allah dengannya, segala perlindungan, penjagaan, dan perhatian-Nya yang
dilimpahkan kepadanya”. Dengan keimanan dan hakikat keyakinannya ia melihat
perlindungan (inayah), petunjuk (hidayah), dan cinta-Nya yang
dicurahkan kepadanya, dimana seluruhnya sudah ditetapkan terlebih dahulu sejak
zaman azali (As-Sarraj, 2009, hal.116). orang-orang yang memiliki
kondisi spiritual mahabbah ini dibedakan menjadi tiga tingkatan sebagai
berikut:
Pertama, mahabbah
(cinta)nya orang-orang awam. Mahabbah ini lahir karena kebaikan dan kasih
sayang Allah azza wa jalla kepada mereka. Hal ini sesuai dengan sabda
Nabi saw: “hati manusia diciptakan sesuai dengan kodratnya untuk cenderung
mencintai kepada orang yang berbuat baik kepadanya, dan membenci kepada orang
yang berbuat jahat kepadanya”.
Kedua, mahabbah
adalah cinta yang muncul karena hati yang selalu melihat pada keagungan dan
Kebesaran Allah, ilmu dan Kekuasaan-Nya, dimana Dia Maha Kaya yang tidak
membutuhkan apa pun. Kondisi spiritual mahabbah yang kedua ini adalah cintanya
orang-orang yang jujur (ash-Shiddiqin) dan orang-orang yang sanggup
mengaktualisasikan kebenaran yang hakiki (al-Muhaqqiqin). Adapun syarat dan
sifatnya sebagaimana pernah dikatakan oleh An-Nuri bahwa mahabbah pada
tingkatan ini adalah menghancurkan tutup penghalang dan menyingkap
rahasia-rahasia. Pernakah dikatakan pula oleh Ibrahim Al-Khawwas bahwa mahabbah
ialah menghapus segala keinginan dan menghanguskan seluruh sifat dan kebutuhan.
Sejalan dengan itu, Abu Sa’id Al-Kharraz pernh mengtakan, “Berbahagialah orang
yang meneguk segelas cinya-Nya, merasakan kenikmatan bermunajat kepada Dzat
Yang Maha Agung dan didekatkan kepada-Nya, terasa dekat dengan-Nya penuh
kesenangan dan Mencintai-Nya dengan penuh kerinduan, sehingga tak ada yang
dapat menentramkan hatinya dan tak ada yang bisa dicintai selain Dia.”
Adapun kondisi
spiritual mahabbah ketiga adalah cintanya orang-orang yang benar-benar
jujur (as-shiddiqin) dan orang-orang arif (al-arifin). Dimana cintanya muncul karena mereka melihat
dan mengetahui keqadiman Cinta Allah yang tanpa sebab dan alasan apa pun.
Dengan demikian, mereka harus mencintai Allah tanpa sebab dan alasan apapun.
Komentar
Posting Komentar