AKHLAK TASAWUF
RINGKASAN BUKU
“GERBANG TASAWUF DIMENSI TEORETIS
DAN PRAKTIS AJARAN KAUM SUFI”
DISUSUN
Oleh :
Dosen Pengampu :
Dr. Jafar, MA
FISIKA
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN SUMATERA UTARA
T.A 2016/2017
TASAWUF: DEFINISI, HIERARKI, DAN TUJUAN
A.
Definisi
Taswuf
Dalam
kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri telah menjelaskan asal-usul tasawuf. Pertama,
istilah tasawuf berasal dari kata al-Shuf, yaitu wol. Disebut sufi
karena kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba. Kedua,
istilah kata tasawuf berasal dari kata al-shaf, yaitu barisan pertama,
yang bermakna bahwa kaum sufi berada pada barisan pertama di depan Tuhan,
karena besarnya keinginan merekan terhadap Tuhan, kecenderunga hati mereka
terhadap-Nya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka
dihadapannya. Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuffh
karena pra sufi mengaku sebagai golongan ahl al-shuffah yang diridai
Allah. Mereka disebut sufi karena sifat-sifat mereka menyamai sifat orang-orang
yang tinggal di serambi masjid (shuffah) yang hidup pada masa Nabi
Muhammad Saw. Keempat, istilah tasawuf berasal dari kata al-shafa
yang artinya kesucian, sebagai makna bahwa para sufi telah mensucikan akhlak
mereka dari noda-noda bawaan, dan karena kemurnian hati dan kebersihan tindakan
mereka. Kaum sufi menjaga moral dan mensucikan diri mereka dari kejahatandan
keinginan duniawi, sebab itulaah mereka disebut sufi.
B.
Tasawuf
dalam Hierarki Ilmu-ilmu Islam
Dalam
Muqaddimah, Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi dua jenis. Pertama, ilmu-ilmu
hikmah dan filsfta (‘ulum al-hikmiyah al-falsafiyyah) yang diperoleh
dengan akal manusia, dan ilmu yang diajarkan dan ditransformsikan (‘ulum
al-naqliyyah al-wadhi’iyah) yang bersumber kepada syariat Islam (Al-Qur’an
dan Hadis).
Dalam
pembagian ilmu menurut l-Ghzali (w.1111) berdasarkan cara perolehan ilmu,
disebutkan bahwa ilmu terdiri atas dua ilmu yang dihadirkan (‘ilm
al-hudhuri/presential) dan ilmu yang dicapai (‘ilm al-hushuli/attained),
sedangkan tasawuf dikategorikan sebagai ‘ilm al-hudhuri.
C.
Tujuan
Tasawuf
Para
sufi telah merumuskaan tujuan dari tasawuf. Sekedar pemetaan, Ibn Khuldun
menjelaskan bahwa puncak perjlan spiritual para penempuh jalan tasawuf setelah
melewati beragam tingkat spiritual (al-maqamat) adalah kemantapan tauhid
dan makrifat.
EPISTEMOLOGI TASAWUF
A.
Peran
Hati dalam Tasawuf
Istilah
hati disebut berulang kali dalam Al-Qur’an dan hadis, yang biasanya disebut
dengan kata qalb, al-fu’ad, atau af’idah.
Dalam
tradisi Islam, hati (qalb) merupakan subsistem jiwa manusia. qalb berfungsi
sebagai sebagai “alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai serta memutuskan
suatu tindakan (Q.S. al-A’raf/7:179),” sehingg qalb menjadi identik
dengan akal.
B.
Metode
Tazkiah al-Nafs
Tazkiah al-Nafs, yakni
membersihkan diri dri dosa besar dan dosa kecil, serta membersihkan diri dari
berbagai penyakit hati dan sifat-sifat tercela;
Metode
irfani merupakan metode kaum sufi dalam islam yang mengandalkan aktivitas
pensucian jiwa (tazkiyah al-nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah
swt., dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan diri
kepada sosok yang Maha Mengetahui (al-Alim), bukan dengan metode
observasi dan eksperimen atau juga metode rasional.
AL-MAQAMAT DAN AL-AHWAL
A.
Definisi
Para
penempuh jalan tasawuf (al-murid/al-salik) akan dapat meraih kemantapan
tauhid dan makrifat. Sebab itu, para sufi menyusun teori mengenai usaha-usaha
untuk menempuh perjalanan spiritual (tariqah) berupa tangga-tangga
pendakian spiritual yang disebut al-maqamat.
Maqamat adalah
tingkatan antara seorang hamba dengan Allah swt. Yang dibanguan atas dasar
pelaksanaan Ibadah, Mujahadah, Riyadah, dan kebersamaan dengan-Nya.
Sedangkan al-Ahwal adalah keadaan hati (qalb) seorang sufi
sebagai akibat dari kemurnian zikirnya.
B.
Pondasi
al-Maqamat
Dalam
memperoleh maqam tertentu, selain wajib menjalankan berbagai bentuk ibadah,
mujahadah, dan riyadhah, seorang salik harus melakukaan khalwah dan ‘uzlah
dalam melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah swt. Dalam risalah
al-Qusyairiyah, al-Qusyairi menjelaskan bahwa Khalwah (menyepi) adalah
pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan al-Haqq.
‘uzlah (mengasingkan diri) adalah menjaga keselamatan diri dari niat
buruk orang lain.
C.
Hierarki
al-Maqamat
Al-Thusi
menyusun al-maqamat dari maqam pertama sampai maqam paling puncak, yang dimulai
dari tobat (al-taubah), warak (wara’), zuhud (al-zuhd),
kefakiran (al-faqr), sabar (al-shabr), tawakal (al-tawakkul), sampai
rida (al-ridha). Menurut al-Ghazali adalah tobat (al-taubah),
sabar (al-shabr), kefakiran (al-faqr), zuhud (al-zuhd), tawakal
(al-tawakkul), cinta (al-muhabbah), dan rida (al-ridha).
TOBAT
(AL-TAUBAH)
Tobat
bermakna “sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan
berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan”.
WARAK
(WARA’)
Kata
warak berasal dari bahasa Arab, wara’a yaitu wara’an yang bermakna
berhati-hati, tetapi dalam kamus bahasa indonesi warak bermakana “patuh dan
taat kepada Allah.” Di dunia tasawuf kata warak ditandai dengan kehati-hatian
dan kewaspadaan tinggi.
ZUHUD
(AL-ZUHD)
Kata
zuhud berasal dari bahasa Arab, zahada, yazhudu, zuhdan yang artinya
menjauhkan diri, tidak menjadi berkeinginan, dan tidak tertarik. Dalam bahasa
Indonesia, zuhud berarti “perihal meninggalkan keduniawian; pertapaan.”
KEFAKIRAN
(AL-FAQR)
Dalam
termologi al-Qur’an, istilah fakir berasal dari bahas arab, faqura, yafquru,
faqran yang artinya miskin. Istilah faqr bermakna kemiskinan. Dalam
bahasa Indonesia, fakir berarti “orang yang sangat berkekurangan, orang yang
terlalu miskin, atau orang yang dengan sengaja membuat dirinya menderita
kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin.”
SABAR (AL-SHABR)
Sabar
merupakan maqam atau kedudukan spiritual yang harus dilalui oleh seorang yang
menjalani sufi. Didalam Al-qur’an banyak ayat yang memerintahkan manusia agar
bersabar dan Allah memuji orang-orang yang bersabar tersebut.
TAWAKAL
(AL-TAWAKKUL)
Istilah
tawakal disebut di dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuk sebanyak 70 kali.
Dalam bahasa Indonesia, tawakal adalah “pasrah diri kepada kehendak Allah;
percaya dengan sepenuh hati kepada Allah (dalam penderitaan dan sebagainya),
atau sesudah berikhtiar baru berserah kepada Allah.”
CINTA (AL-MUHABBAH)
Yang
dimaksud mahabbah bagi seorang hamba yaitu: “melihat dengan kedua
matanya terhadap nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Dan dengan hati
nuraninya ia melihat kedekatan Allah dengannya, segala perlindungan, penjagaan,
dan perhatian-Nya yang dilimpahkan kepadanya”. Dengan keimanan dan hakikat
keyakinannya ia melihat perlindungan (inayah), petunjuk (hidayah), dan
cinta-Nya yang dicurahkan kepadanya, dimana seluruhnya sudah ditetapkan
terlebih dahulu sejak zaman azali (As-Sarraj, 2009, hal.116).
RIDA
(AL-RIDHA)
Ridha
adalah kedudukan spiritual yang mulia. Ridh adalah pintu Allah yang paling
agung dan merupkan surge dunia. Ridha adalah dapat menjadikan hati seorang
hamba merasa tenang di bawah kebijakan hukum Allah Azza wa Jalla.
D.
Al-Maqam
Lainnya
Sebagian sufi
menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapatmencapai
maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa
rida bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi
mengatakan bahwa sebagian sufi membagi ma’rifah menjadi dua, yakni al-ma’rifah haq yang berarti
penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat
yang dikemukakannya, dan ma’rifah haqiqa yang bermakna makrifat yang
tidak bisa dicapai dengan saran apapun,
sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapatdipahami.
Menurutnya ma’rifat bermakna “hati(al-Sir)
menyaksikan kekuasaan Allah swtdan merasakan besarnya kebenaran-Nya dan mulianya
kehebatan-Nya yang tidak bisa diungkap dengan ibarat apapun.”
E.
Mengenal
al-Ahwal
Ahwal adalah
keadaan-keadaan spiritual yang menguasai qalbu dalam menempuh jalan menuju
Tuhan. Istilah ahwal dalam tasawuf digunakan untuk menunjukkan keadaan
spiritual. Al-hal merupakan sebuah kondisi yang melekat dalam qalbu,
merupakan efek dari peningkatan maqomat seseorang.
AL-MURAQABAH
Yang
dimaksud muraqabah bagi seorang hamba yaitu : “Suatu pengetahuan dan
keyakinan bahwa Allah swt yang ada dalam hati nuraninya selalu melihat dan Maha
Mengetahui”
AL-KHAUF
Khauf yaitu rasa
takut kepada Allah swt. Sebagi akibat dari kedekatannya dengan Allah. Di antara
orang yang sudah mencapai kondisi spiritual khauf (rasa takut) kepada
Allah swt itu ada yang rasa takutnya menguasai hatinya karena ia melihat
kedekatan Allah dengannya, ada pula di antara mereka yang hatinya dikuasai rasa
cinta (mahabbah).
AL-RAJA
Rasyidi
menjelaskan roja yaitu suatu sikap mental optimisme dalam memperoleh
karunia Allah yang disediakan bagi hamba-Nya yang shaleh.
AL SYAWQ
Kondisi
spiritual al syawq bagi seorang hamba yaitu menyaksikan dengan mata hatinya akan kerinduan
Allah swt.
INTEGRASI TASAWUF DAN SAINS
A.
Integrasi
dalam Sejarah Islam
Integrasi
ilmu dalam islam bukan hal yang baru. Sebab, para ilmuan muslim klasik telah
mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Paling
tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang
pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun
ilmu-ilmu kewahyuan. Mereka bahkan mengintegrasikan kedua jenis ilmu tersebut,
dan keduanya saling mendukung kegiatan akademik mereka.
B.
Integrasi
dalam Ranah Ontologi
Istilah
ontology berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos
yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa latin disebut ontologia, sehingga
ontology bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut. Ontologi
dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi merupakan
bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; dan membahas teori
tentang keberadaan seperti makna keberadaan dan karekteristik esensial
keberadaan. Suriasumantri menyimpulkan bahwa ontology sebagai bagian dari kajian
filsafat ilmu membahas tentang hakikat dari objek telaah ilmu. Dengan demikian,
ontologi adalah ilmu tentang teori keberadaan, dan istilah ontologi ditunjukkan
kepada pembahasan tentang objek kajian ilmu.
C.
Integrasi
dalam Ranah Epistemologi
Istilah
epistemology bersal dari bahasa Yunani, episteme yang bermakna
pengetahuan, dan logos yang bermakna ilmu atau eksplantasi, sehingga
epistemology berarti teori pengetahuan. Epistemology dimaknai sebagai cabang
filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok
epistemology adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan,
dan hal-hal yang dapat diketahui. Runes menjelaskan bahwa epistemology adalah
cabang filsafat yang menelusuri asal (sumber), struktur, metode, dan validitasi
ilmu pengetahuan. Surisumantri menyimpulkan bahwa epistemology sebagai bagian
dari kajian filsafat ilmu membahas tentang proses dan prosedur menggali ilmu,
metode untuk meraih ilmu yang benar, makna dan criteria kebenaran, serta sarana
yang digunakan untuk mendpatkan ilmu. Dengan demikian, epistemology adalah ilmu
tentang cara mendapatkan ilmu.
D.
Integrasi
dalam Ranah Aksiologi
Istilah
aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang
berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, investigasi terhadap asal,
criteria, dan status metafisik dari nilai tersebut. Menurut Bunnin dan Yu,
aksiologi adalah studi umum tentang nilai dan penilaian, termasuk makna,
karakteristik, dan klasifikasi nilai, serta dasar dan karakter pertimbangan
nilai. Sebab itu, aksiologi disebut dengan teori nilaia. Aksiologi juga
dimaknai sebagai studi tentang maanfaat akhir dari segala sesuatu.
Suriasumantri menyimpulkan bahwa aksiologi sebagai bagian dari kajian filsafat
ilmu membahas tentang kegunaan dan penggunaan ilmu, kaitan antara penggunaan
ilmu dengan kaedah moral, dan hubungan antara prosedur dan oprasionalisasi
metode ilmiah dengan norma-norma moral dan professional. Jadi, aksiologi
membahas tentang nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian dan pengembangan ilmu
dengan kaedah moral, serta tanggung jawab social ilmuwan. Kajian aksiologi
lebuh ditunjukkan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan etika
akademik ilmuwan.
Komentar
Posting Komentar