Langsung ke konten utama

TASAWUF "RIDA DAN MAQAM LAINNYA"



RIDA DAN MAQAM LAINNYA

Nama                      : Asnitha Aritonang
NIM                        : 0705162018
Prodi                       : FISIKA
Fakultas                  : Sains & Teknologi
Semester                 : 2 (Dua)
Peguruan Tinggi     : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen                     : Dr.Ja’far, MA.
Mata Kuliah            : Akhlak Tasawuf

TEMA                    : RIDHA DAN MAQAM LAINNYA
Buku 1                    : Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi)
Identitas Buku        : Ja’far, Gerbang Tasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)

Ridha
            Ridha adalah kedudukan spiritual yang mulia. Ridh adalah pintu Allah yang paling agung dan merupkan surge dunia. Ridha adalah dapat menjadikan hati seorang hamba merasa tenang di bawah kebijakan hukum Allah Azza wa Jalla. Al-Qannad pernah ditanya tentang ridha, ia menjawab: Ridha adalah tenangnya hati atas berlakunya takdir. Dzunnun la-Misri pun pernah ditanya tentang ridha, lalu ia menjawab: ridha adalah senangnya hati atas takdir yang berlaku padanya. Ibnu tha berkta: ridha adalah melihatnya hati nurani pada pilihan Allah yang lebih dahulu telah ditetapkan untuk hamba-Nya, agar ia tahu bahwa Allah memilihkannya yang terbaik untuknya, sehingga ia ridha dan tidak jengkel dengan-Nya (As-Sarraj, 2009: 110).
              Orang-orang yang memiiki kedudukan spiritual ridha itu dibedakan menjadi tiga kondisi: pertma, orang yang berush meringkis rasa gelisah dari dalam hatinya, sehingga hatinya tetap stabil dan seimbang terhadap Allah atas kebijakan-kebijakan hukum yang diberikannya, baik berupa hal-hal yang tidak diinginkan dan kesulitan maupun hal-hal yang menyenangkan, baik berupa pemberian atau tidak diberi apapun. Kedua, orang yang tidak lagi melihat ridhanya kepada Allah, karena ia hanya melihat ridha Allah kepadanya. Hal ini didasarkan kepada firman Allah: “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya” (Q.S. Al-Ma’idah:119). Oleh karena itu, ia tidak menetapkan bahwa dirinya lebih dahulu ridha kepada-Nya, sekalipun kondisi spiritualnya tetap stabil dalam menyikapi kesulitan dan bencana maupun hal-hal yang menyenangkan, baik diberi atau tidak. Ketiga, ialah orang melewati batas itu. ia sudah tidak lagi melihat ridha Allah kepadanya atau ridhanya kepada Allah. Sebab Allah telah menetapkan lebih dahulu ridha-Nya kepada makhluk.
            Ridha merupakan akhir dari beberapa tingkatan atau kedudukan spiritual (maqamat). Kemudian setelah itu mengharuskan pada beberapa kondisi spiritual (ahwal) orang-orang yang mampu mengendalikan hati nuraninya, melihat hal-hal yang ghaib dan pelatihan hati nurani karena jumlah dzikir dan hakikat berbagai kondisi spiritual. Kondisi pertama yang akan dirasakan oleh orang-orang yang mampu mengendalikan hati nuraninya adalah muraqabah. 


Al-Maqam lainnya

Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapatmencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa rida bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi ma’rifah menjadi dua, yakni al-ma’rifah haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang dikemukakannya, dan ma’rifah haqiqa yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapai dengan saran apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapatdipahami. Menurutnya ma’rifat bermakna “hati(al-Sir) menyaksikan kekuasaan Allah swtdan merasakan besarnya kebenaran-Nya dan mulianya kehebatan-Nya yang tidak bisa diungkap dengan ibarat apapun.” Al-Quraisy menjelaskan bahwa maksud para sufi dari istilahh Ma’rifah adalah “sifat dari orang-orang yang mengenal Allah swt dengan nama dansifat-Nya, dan membenarkan Allah swt dengan melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan… [makrifat adalah] pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah swt, tidak menyaksikan selain menyaksikan-Nya, dan tidak kemballi kepada selain-Nya.” al-Thusi menjelaskan bahwa makrifat adalah derajat tertinggi pengetahuan tentang Allah swtdan pengetahuan tentang-Nya memiliki beberapa tingkatan.Sebagian sufi lain mengahdirkan ajaran lain tentang al-maqam tertinggi. Al-Hallajmengenalkan paham al-hulul, Abu Yazid al-Bistami memiliki ajaran tentang al-ittihad, danIbn Arabi mengajarkan paham wahdah al-wujud yang dielaborasi lebih lanjut oleh Mulla Shadra.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF”

AKHLAK TASAWUF RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF DIMENSI TEORETIS DAN PRAKTIS AJARAN KAUM SUFI” DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang       NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Jafar, MA FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2016/2017 TASAWUF: DEFINISI, HIERARKI, DAN TUJUAN    A.     Definisi Taswuf Dalam kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri telah menjelaskan asal-usul tasawuf. Pertama, istilah tasawuf berasal dari kata al-Shuf , yaitu wol. Disebut sufi karena kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba. Kedua, istilah kata tasawuf berasal dari kata al-shaf , yaitu barisan pertama, yang bermakna bahwa kaum sufi berada pada barisan pertama di depan Tuhan, karena besarnya keinginan merekan terhadap Tuhan, kecenderunga hati mereka terhadap-Nya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka dihadapannya. Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuff...

AL-AHWAL; AL-MURAQABAH, AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ

AL-AHWAL; AL-MURAQABAH, AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ Nama                      : Asnitha Aritonang NIM                        : 0705162018 Prodi                       : FISIKA Fakultas                   : Sains & Teknologi Semester                 : 2 (Dua) Peguruan Tinggi      : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Dosen                      : Dr.Ja’far, MA. Mata Kuliah             : Akhlak Tasawuf TEMA                     :  ...

TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA

HASIL WAWANCARA TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang                   NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, M.A FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2017       A.     Waktu dan Tempat Wawancara Kegiatan wawancara ini dilaksanakan pada : Hari / Tanggal              : Selasa / 13 Juni 2017 Pukul                            : 15:00 WIB- Selesai Tempat                         : Marendal. Kecamatan Patumbak       B...