INTEGRASI TASAWUF DAN SAINS
Nama :
Asnitha Aritonang
NIM : 0705162018
Prodi : FISIKA
Fakultas : Sains & Teknologi
Semester : 2 (Dua)
Peguruan Tinggi : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen : Dr.Ja’far, MA.
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
NIM : 0705162018
Prodi : FISIKA
Fakultas : Sains & Teknologi
Semester : 2 (Dua)
Peguruan Tinggi : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen : Dr.Ja’far, MA.
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA
: INTEGRASI
TASAWUF DAN SAINS
Buku 1
: Gerbang Tasawuf (Dimensi
Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi)
Identitas Buku : Ja’far, GerbangTasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Identitas Buku : Ja’far, GerbangTasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)
A.
Integrasi
Dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah intelektual Islam klasik, budaya integrasi keilmuan
telah dikenal dan dikembangkan dengan canggih. Center for Islamic Philosophical
Studies nd Informtion (CIPSI) pernh menyebut 216 ilmuan, teolog, dan saintis
muslim yang menguasai banyak bidang, baik ilmu-ilmu kewahyuan maupun ilmu-ilmu
rasional dan empiric. Dalam sejrah islam, ditemukan seorang ahli astronomi,
ahli biologi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang
ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fiqih, tafsir, hadits, dan tasawuf meskipun
berprofesi sebagai saintis dalam bidang ilmu-ilmu keislaman, para pemikir
muslim klasik menempuh pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka
diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan religious dan spiritual.
Dengan demikian, integrasi ilmu dalam islam bukan hal yang baru.
Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut
sepanjang masa keemasan islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai
seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu
rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun ilmu-ilmu kewahyuan. Mereka bahkan
mengintegrasikan kedua jenis ilmu tersebut, dan keduanya saling mendukung
kegiatan akademik mereka. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, prilaku
hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori mereka mengenai filsafat dan
sufisme. Dapat isimpulkan bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara 2 jenis
ilmu tersebut, dan mengintegrasikan kedua nya dengan keyakinan dan prilaku
hidup mereka sehari-hari.
B.
Integrasi
dalam ranah ontology
Istilah
ontology berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos
yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa latin disebut ontologia, sehingga
ontology bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut. Ontologi
dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi merupakan
bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; dan membahas teori
tentang keberadaan seperti makna keberadaan dan karekteristik esensial
keberadaan. Suriasumantri menyimpulkan bahwa ontology sebagai bagian dari
kajian filsafat ilmu membahas tentang hakikat dari objek telaah ilmu. Dengan
demikian, ontologi adalah ilmu tentang teori keberadaan, dan istilah ontologi
ditunjukkan kepada pembahasan tentang objek kajian ilmu.
C.
Integrasi
dalam Ranah Epistemologi
Istilah
epistemology bersal dari bahasa Yunani, episteme yang bermakna
pengetahuan, dan logos yang bermakna ilmu atau eksplantasi, sehingga
epistemology berarti teori pengetahuan. Epistemology dimaknai sebagai cabang
filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok
epistemology adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan,
dan hal-hal yang dapat diketahui. Runes menjelaskan bahwa epistemology adalah
cabang filsafat yang menelusuri asal (sumber), struktur, metode, dan validitasi
ilmu pengetahuan. Surisumantri menyimpulkan bahwa epistemology sebagai bagian
dari kajian filsafat ilmu membahas tentang proses dan prosedur menggali ilmu,
metode untuk meraih ilmu yang benar, makna dan criteria kebenaran, serta sarana
yang digunakan untuk mendpatkan ilmu. Dengan demikian, epistemology adalah ilmu
tentang cara mendapatkan ilmu.
D.
Integrasi
dalam Ranah Aksiologi
Istilah
aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang
berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, investigasi terhadap asal,
criteria, dan status metafisik dari nilai tersebut. Menurut Bunnin dan Yu,
aksiologi adalah studi umum tentang nilai dan penilaian, termasuk makna,
karakteristik, dan klasifikasi nilai, serta dasar dan karakter pertimbangan
nilai. Sebab itu, aksiologi disebut dengan teori nilaia. Aksiologi juga
dimaknai sebagai studi tentang maanfaat akhir dari segala sesuatu.
Suriasumantri menyimpulkan bahwa aksiologi sebagai bagian dari kajian filsafat
ilmu membahas tentang kegunaan dan penggunaan ilmu, kaitan antara penggunaan
ilmu dengan kaedah moral, dan hubungan antara prosedur dan oprasionalisasi
metode ilmiah dengan norma-norma moral dan professional. Jadi, aksiologi
membahas tentang nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian dan pengembangan ilmu
dengan kaedah moral, serta tanggung jawab social ilmuwan. Kajian aksiologi
lebuh ditunjukkan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan etika
akademik ilmuwan.
Komentar
Posting Komentar