Langsung ke konten utama

AL-AHWAL; AL-MURAQABAH, AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ



AL-AHWAL; AL-MURAQABAH,
AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ
Nama                      : Asnitha Aritonang
NIM                        : 0705162018
Prodi                       : FISIKA
Fakultas                  : Sains & Teknologi
Semester                 : 2 (Dua)
Peguruan Tinggi     : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen                     : Dr.Ja’far, MA.
Mata Kuliah            : Akhlak Tasawuf

TEMA                    Al-Ahwal; Al-Muraqabah, Al-Khauf, Al-Raja, Dan Al Syawq
Buku 1                    : Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi)
Identitas Buku        : Ja’far, GerbangTasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)

A.    MENGENAL AL-AHWAL
Ahwal adalah keadaan-keadaan spiritual yang menguasai qalbu dalam menempuh jalan menuju Tuhan. Istilah ahwal dalam tasawuf digunakan untuk menunjukkan keadaan spiritual. Al-hal merupakan sebuah kondisi yang melekat dalam qalbu, merupakan efek dari peningkatan maqomat seseorang. Secara teoritis memang bisa dipahami, bahwa seorang hamba kapan pun bias mendekat kepada Allah dengan cara membuat kebajikan, ibadah, riyadhah, dan mujahadah, maka Allah akan memancarkan cahaya dalam qalbu hamba tersebut. Yang termasuk kepada al-ahwal menurut As-Sarraj yaitu muraqabah, qurbah, mahabbah, khauf, roja, syauq, uns, thuma’ninah, musyahadah, dan yaqin.

1.      Muraqabah
Salah satu asma Allah yang baik (asmaul husna) yaitu ar-raqib (Yang Maha Menguasai). Di dalam al-Qur’an Allah menjelaskan “Dan Allah Maha Menguasai segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab:52). Yang dimaksud muraqabah bagi seorang hamba yaitu : “Suatu pengetahuan dan keyakinan bahwa Allah swt yang ada dalam hati nuraninya selalu melihat dan Maha Mengetahui”(As-Sarraj, 2009: 112). “Muraqabah yaitu seseorang melihat Allah dengan mata hatinya dan meyakini sedalam-dalamnya bahwa Allah itu ialah Tuhan yang menciptakan kita” (Jaho, 2002:2).

2.      Qurbah (kedekatan)
Kondisi spiritual qurbah bagi seorang hamba yaitu menyaksikan dengan mata hatinya akan kedekatan Allah swt. Dengannya. Dengan demikian, ia akan melakukan pendekatan diri kepada-Nya dengan ketaatan-ketaatan dan seluruh perhatiannya selaalu terpusatkan di hadapan Allah dengan selalu mengingat-Nya dalam segla kondisinya, baik secara lahirilah maupun secara rahasia hati. 

3.      Mahabbah (Rasa Cinta)
Yang dimaksud mahabbah bagi seorang hamba yaitu: “melihat dengan kedua matanya terhadap nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Dan dengan hati nuraninya ia melihat kedekatan Allah dengannya, segala perlindungan, penjagaan, dan perhatiannya yang dilimpahkan kepadanya”. Dengan keimanan dan hakikat keyakinanya ia melihat perlindungan (inayah), petunjuk (hidayah), dan cinta-Nya yang dicurahkan kepadanya, dimana seluruhnya sudah ditetapkan terlebuh dahulu sejak zaman azali. 

4.      Khauf (Rasa Takut)
Khauf yaitu rasa takut kepada Allah swt. Sebagi akibat dari kedekatannya dengan Allah. Di antara orang yang sudah mencapai kondisi spiritual khauf (rasa takut) kepada Allah swt itu ada yang rasa takutnya menguasai hatinya karena ia melihat kedekatan Allah dengannya, ada pula di antara mereka yang hatinya dikuasai rasa cinta (mahabbah). Hal itu terjadi sesuai dengan pembenaran (tashdiq), hakikat keyakinannya, dan rasa takut yang diberikan Allah dalam hati hamba-Nya.

5.      Roja (Rasa Pengharapan)
Rasyidi menjelaskan roja yaitu suatu sikap mental optimisme dalam memperoleh karunia Allah yang disediakan bagi hamba-Nya yang shaleh. Oleh karena Allah itu Maha Pengampun, Pengasih, dan Penyayang, maka bagi hamba yang taat merasa optimis akan memperoleh limpahan karunia Allah, Jiwanya penuh harapan mendapat ampunan, merasa lapang, penuh gairah, menanti rahmat dan kasih sayang dari allah, karena ia yakin bahwa hal itu akan terjadi. Dalam pandangan sufi, roja merupakan salah satu tingkatan yang harus dilalui oleh seorang salik untuk memperoleh derjat tertinggi di sisi Allah, tetapi tidak semua sikap roja yang bisa dikatakan maqam. Baru dikatakan maqam apabila sikap itu telah mendarah daging dan menyatu dalam jiwa.Kalau sikap itu hanya sementara saja dan pada suatu saat menghilang, maka yang demikian itu dikatakan hal.[1]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF”

AKHLAK TASAWUF RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF DIMENSI TEORETIS DAN PRAKTIS AJARAN KAUM SUFI” DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang       NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Jafar, MA FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2016/2017 TASAWUF: DEFINISI, HIERARKI, DAN TUJUAN    A.     Definisi Taswuf Dalam kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri telah menjelaskan asal-usul tasawuf. Pertama, istilah tasawuf berasal dari kata al-Shuf , yaitu wol. Disebut sufi karena kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba. Kedua, istilah kata tasawuf berasal dari kata al-shaf , yaitu barisan pertama, yang bermakna bahwa kaum sufi berada pada barisan pertama di depan Tuhan, karena besarnya keinginan merekan terhadap Tuhan, kecenderunga hati mereka terhadap-Nya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka dihadapannya. Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuff...

TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA

HASIL WAWANCARA TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang                   NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, M.A FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2017       A.     Waktu dan Tempat Wawancara Kegiatan wawancara ini dilaksanakan pada : Hari / Tanggal              : Selasa / 13 Juni 2017 Pukul                            : 15:00 WIB- Selesai Tempat                         : Marendal. Kecamatan Patumbak       B...