Langsung ke konten utama

Akhlak Tasawuf "TOBAT DAN WARAK"



TOBAT DAN WARAK
Nama                      : Asnitha Aritonang
NIM                        : 0705162018
Prodi                       : FISIKA
Fakultas                  : Sains & Teknologi
Semester                 : 2 (Dua)
Peguruan Tinggi     : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen                     : Dr.Ja’far, MA.
Mata Kuliah            : Akhlak Tasawuf

TEMA                    : Taubat, Wara’ , dan Zuhud (Hirarki al-Maqam)
Buku 1                    : Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi)
Identitas Buku        : Ja’far, GerbangTasawuf (Medan: Perdana Publishing, 2016)


A.    Tobat (al-taubah)
Tobat bermakna “sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan”. Maqam tobat (al-taubah) merupakan maqam pertama yang harus dilewati setiap salik dan diraih dengan menjalankan ‘ibadah, mujahadah dan riyadhah. Hampir semua sufi sepakat bahwa tobat adalah maqam pertama yang haarus diperoleh setiap salik. Istilah tobat berasal dari bahasa Arab, taba, yatubu, tobatan, yang berarti kembali, dan disebut oleh Al-Qur’an sebanyak 87 kali dalam berbagai bentuk. Muhammad Fu’ad’Abd al-Baqi menyebutkan bahwa istilah tobat disebut Al-Qur’an berulang kali dengan beragam bentuk kata, seperti taba, tabu, tubtu, tubtum, atubu, tatuba, yabtu, yatubu, yatubun, tub, tubu, al-taubi, taubah, taubatuhum, ta’ibat, al-ta’ibun, tawwab, tawwaba, al-tawwabin, matab, dan mataba. Kata taubah disebut sebanyak 6 kali, yakni dalam Q.S. al-Nisa’/4: 17-18, 92; Q.S. al-Taubah/9: 104; Q.S. al-Syura/42: 25; dan Q.S. al-Tahrim/ 66: 8. Al-Qur’an menyebutkan bahwa diantara sifat Allah adalah tawwab yang disebut sebanyak 8 kali, dan tawwaba yang disebut 3 kali. Data ini menunjukkan bahwa konsep tobat sangat penting dalam ajaran Islam.
Imam al-Ghazali mendasari maqam tobat dengan berbagai ayat Al-Qur’an, hadis-hadis, dan atsar sebagaimana dapat dilihat dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din, sehingga dapat diketahui tantang kewajiban dan keutamaan tobat dalam Islam. Di antara dalil maqam tobat adalah Q.S. al-Nur/24: 31; Q.S. al-Baqarah/ 2: 222, dan Q.S. al-Thamrin/66: 8.
Allah swt. Berfirman dalam Q.S, al-Tahrim/66: 8,
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Dalam Q.S. al-Baqarah/ 2: 222, Allah swt. Berfirman:
Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

            Istilah tobat diartikan sebagai berbalik dan kembali kepada Allah dari dosa seseorang untuk mencari pengampunan-Nya, dan Istilah ini telah dijelaskan oleh para sufi dalam karya-karya mereka. Dzun Nun al-Mishri menegaskan bahwa tobat dibagi menjadi tiga: “tobat kaum awam (al-amm) yakni tobat dari dosanya (taubah min al-zunubi); tobat orang terpilih (al-khash) yakni tobat dari kelupaannya (al-ghaflah); dan tobat para nabi yakni tobat dari kesadaran mereka atas ketidakmampuan untuk mencapai apa yang telah dicapai orang lain.” Menurut al-Qusyairi, tobat adalah awal pendakian dan maqam pertama bagi sufi pemula. Menurutnya, “tobat adalah kembali dari sesuatu yang dicela syariat menuju kepada kepada sesuatu yang dipuji syariat. Tobat diharuskan memenuhi tiga syarat yaitu menyesali atas pelanggaran yang telah diperbuat, meninggalkan jalan licin (kesesatan) pada saat melakukan tobat, dan berketetapan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran serupa. Junaid al-Baghdadi mengatakan bahwa “tobat memiliki tiga makna, yakni penyesalan, tekad meninggalkan segala larangan Allah swt. Dan berusaha memenuhi hak-hak semua orang yang pernah dizalimi.  
   
B.     Warak (wara’)
Kata warak berasal dari bahasa Arab, wara’a yaitu wara’an yang bermakna berhati-hati, tetapi dalam kamus bahasa indonesi warak bermakana “patuh dan taat kepada Allah.” Di dunia tasawuf kata warak ditandai dengan kehati-hatian dan kewaspadaan tinggi.
Al-Qusyairi menjelaskan bahwa “wara’ adalah meninggalkan segala hal yang syubhat. Ibrahim bin Adam berkata, “wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang syuhbat dan segala hal yang tidak pasti yakni meninggalkan hal-hal yang tidak berfaedah. Yahya bin Mu’az berkata “wara’ terbagi menjadi dua, wara lahir yaitu semua gerak aktivitas hanya tertuju kepada Allah SWT., dan wara batin yaitu hati yang tidak dimasuki apapun kecuali hanya mengingat Allah Swt.
Beberapa kaum sufi mempunyai pendapat tentang wara’, diantaranya :
1)         Al – Qusyairi menjelaskan wara’ adalah meninggalkan segala hal yang syubhat.
2)         Ibrahim bin Adam berkata wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang ada didunia yang tidak berfaedah.
3)         Yahya bin Mu’az berkata wara’ yaitu hati yang tidak dimasuki apapun kecuali hanya mengingat Allah Swt.
4)         Ibn Qayyim al – Jauziyah menjelaskan wara’ adalah menjaga diri dari perbuatan dan barang haram dan syubhat(Ja’far,Gerbang Tasawuf:2016,63).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF”

AKHLAK TASAWUF RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF DIMENSI TEORETIS DAN PRAKTIS AJARAN KAUM SUFI” DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang       NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Jafar, MA FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2016/2017 TASAWUF: DEFINISI, HIERARKI, DAN TUJUAN    A.     Definisi Taswuf Dalam kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri telah menjelaskan asal-usul tasawuf. Pertama, istilah tasawuf berasal dari kata al-Shuf , yaitu wol. Disebut sufi karena kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba. Kedua, istilah kata tasawuf berasal dari kata al-shaf , yaitu barisan pertama, yang bermakna bahwa kaum sufi berada pada barisan pertama di depan Tuhan, karena besarnya keinginan merekan terhadap Tuhan, kecenderunga hati mereka terhadap-Nya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka dihadapannya. Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuff...

AL-AHWAL; AL-MURAQABAH, AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ

AL-AHWAL; AL-MURAQABAH, AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ Nama                      : Asnitha Aritonang NIM                        : 0705162018 Prodi                       : FISIKA Fakultas                   : Sains & Teknologi Semester                 : 2 (Dua) Peguruan Tinggi      : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Dosen                      : Dr.Ja’far, MA. Mata Kuliah             : Akhlak Tasawuf TEMA                     :  ...

TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA

HASIL WAWANCARA TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang                   NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, M.A FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2017       A.     Waktu dan Tempat Wawancara Kegiatan wawancara ini dilaksanakan pada : Hari / Tanggal              : Selasa / 13 Juni 2017 Pukul                            : 15:00 WIB- Selesai Tempat                         : Marendal. Kecamatan Patumbak       B...