AKHLAK TASAWUF
DEFINISI AL-MAQAMAT DAN AL-AHWAL
DISUSUN
Oleh :
Dosen Pengampu :
Dr. Ja’far, M.A
FISIKA
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN SUMATERA UTARA
T.A 2017
DEFINISI AL-MAQAMAT DAN AL-AHWAL
A.
DEFINISI
AL-MAQAMAT
Karya-karya para
sufi telah menunjukkan tasawuf sebagai disiplin ilmu dirancang sebagai media
informasi bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sehingga para
penempuh jalan tasawuf (al-murid/al-salik) akan dapat meraih kemantapan
tauhid dan makrifat. Sebab itu, para sufi menyusun teori mengenai usaha-usaha
untuk menempuh perjalanan spiritual (thariqah) berupa tangga-tangga
pendakian spiritual yang disebut al-maqamat. Hakikat al-maqamat dapat dilihat dari karya-karya sufi yang
biasanya juga diiringi kajian tentang ahwal, sebab keduanya tidak bias
dibahas secara terpisah. Dalam kitab al-Luma’, al-Thusi menjelaskan
bahwa maqamat adalah tingkatan antara seorang hamba dengan Allah Swt.
Yang dibangun atas dasar pelaksnaan ‘ibadah, mujahadah, riyadhah, dan
kebersamaan dengan-Nya. Teori al-maqamat sesuai dengan Q.S.
Ibrhim/14:14, dan Q.S. al-Saffat/37:164. Sedngkan al-ahwal adalah
keadaan hati (qalb) seorang sulfi sebagai akibat dari kemurnian zikirnya.
Abu al-Najib
al-Suhrwardi dan al-Qusyairi memberikan penjelsan mengenai al-maqamat dan
al-ahwal. Dalam Adab al-Muridin, Abu al-Najib al-Suhrwardi, al-maqamaat
adaalah tingkatan spiritual seornag hamba dalam ibadah di hadapan Allah Swt.
Dalam Rislah al-Qusyairiyyah, menjelaskan bahwa al-maqamaat adalah tingkatan
spiritual yang akan diraih salik dengan jalan mujahadah dan mengamalkan
adab-adab, prilaku dan sikap tertentu, sert riyadhah. Mengenai al-ahwal dan
perbedaannya dengn al-maqamat, al-Qusyairi menjelaskan:
“al-hal menurut kaum (sufi) adalah maakna yang haadir dalam hati
tanpa unsure kesengajaan, upayaa, latihan, pemaksaan seperti gembira, sedih, lapang,
sempit, rindu, gelisah, takut, dan gemetar. Al-hal merupakan pemberian,
sedangkan al-maqamat merupakan hasil usaha. Al-hal datang dari Allah ke dalam
jiwanya (sufi), sedangkan al-maqamat merupakan hasil usaha dengan mujahadah
secara terus-menerus. Pemilik al-maqam memungkinkan dapat menduduki al-maqam
secara tetap, sedangkan pemilik al-hal sering mengalami naik turun sesuai
keadaan hatinya”. [1]
Dengan demikian, al-maqamat adalah tingkatan-tingkatan spiritual
seorang sufi, dari tingkatan paling mendasar sampai tingktan tertinggi, yaitu
ekat dengan Allah Swt. Yang diperoleh salik secara mandiri melalui pelaksanaan
ibadah, mujahadah, dan riyadhah secara terus menerus. Al-ahwal merupkan keadaan
hati seorang salik yang bukan merupakan hasil usahanya secara mandiri,
melainkan pemberian dari Allah Swt. Kaum sufi telah merumuskan al-maqamat dan
al-ahwal dalam karya-karya mereka.
B.
MENGENAL
AL-AHWAL
Ahwal adalah
keadaan-keadaan spiritual yang menguasai qalbu dalam menempuh jalan menuju
Tuhan. Istilah ahwal dalam tasawuf digunakan untuk menunjukkan keadaan
spiritual. Al-hal merupakan sebuah kondisi yang melekat dalam qalbu,
merupakan efek dari peningkatan maqomat seseorang. Secara teoritis memang bisa
dipahami, bahwa seorang hamba kapan pun bias mendekat kepada Allah dengan cara
membuat kebajikan, ibadah, riyadhah, dan mujahadah, maka Allah akan
memancarkan cahaya dalam qalbu hamba tersebut. Yang termasuk kepada
al-ahwal menurut As-Sarraj yaitu muraqabah, qurbah, mahabbah, khauf, roja,
syauq, uns, thuma’ninah, musyahadah, dan yaqin.
1.
Muraqabah
Salah
satu asma Allah yang baik (asmaul husna) yaitu ar-raqib (Yang
Maha Menguasai). Di dalam al-Qur’an Allah menjelaskan “Dan Allah Maha Menguasai
segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab:52). Yang dimaksud muraqabah bagi seorang
hamba yaitu : “Suatu pengetahuan dan keyakinan bahwa Allah swt yang ada dalam
hati nuraninya selalu melihat dan Maha Mengetahui”(As-Sarraj, 2009: 112). “Muraqabah
yaitu seseorang melihat Allah dengan mata hatinya dan meyakini sedalam-dalamnya
bahwa Allah itu ialah Tuhan yang menciptakan kita” (Jaho, 2002:2).
2.
Qurbah
(kedekatan)
Kondisi
spiritual qurbah bagi seorang hamba yaitu menyaksikan dengan mata hatinya akan
kedekatan Allah swt. Dengannya. Dengan demikian, ia akan melakukan pendekatan
diri kepada-Nya dengan ketaatan-ketaatan dan seluruh perhatiannya selaalu
terpusatkan di hadapan Allah dengan selalu mengingat-Nya dalam segla
kondisinya, baik secara lahirilah maupun secara rahasia hati.
3.
Mahabbah
(Rasa Cinta)
Yang
dimaksud mahabbah bagi seorang hamba yaitu: “melihat dengan kedua
matanya terhadap nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Dan dengan hati
nuraninya ia melihat kedekatan Allah dengannya, segala perlindungan, penjagaan,
dan perhatiannya yang dilimpahkan kepadanya”. Dengan keimanan dan hakikat keyakinanya
ia melihat perlindungan (inayah), petunjuk (hidayah), dan
cinta-Nya yang dicurahkan kepadanya, dimana seluruhnya sudah ditetapkan
terlebuh dahulu sejak zaman azali.
4.
Khauf
(Rasa Takut)
Khauf yaitu rasa takut kepada Allah swt. Sebagi akibat dari kedekatannya
dengan Allah. Di antara orang yang sudah mencapai kondisi spiritual khauf
(rasa takut) kepada Allah swt itu ada yang rasa takutnya menguasai hatinya
karena ia melihat kedekatan Allah dengannya, ada pula di antara mereka yang
hatinya dikuasai rasa cinta (mahabbah). Hal itu terjadi sesuai dengan
pembenaran (tashdiq), hakikat keyakinannya, dan rasa takut yang
diberikan Allah dalam hati hamba-Nya.
5.
Roja
(Rasa Pengharapan)
Rasyidi
menjelaskan roja yaitu suatu sikap mental optimisme dalam memperoleh
karunia Allah yang disediakan bagi hamba-Nya yang shaleh. Oleh karena Allah itu
Maha Pengampun, Pengasih, dan Penyayang, maka bagi hamba yang taat merasa
optimis akan memperoleh limpahan karunia Allah, Jiwanya penuh harapan mendapat
ampunan, merasa lapang, penuh gairah, menanti rahmat dan kasih sayang dari
allah, karena ia yakin bahwa hal itu akan terjadi. Dalam pandangan sufi, roja
merupakan salah satu tingkatan yang harus dilalui oleh seorang salik untuk
memperoleh derjat tertinggi di sisi Allah, tetapi tidak semua sikap roja
yang bisa dikatakan maqam. Baru dikatakan maqam apabila sikap itu telah
mendarah daging dan menyatu dalam jiwa.Kalau sikap itu hanya sementara saja dan
pada suatu saat menghilang, maka yang demikian itu dikatakan hal.[2]
[1] Ja’fr. 2016. Gerbang Tasawuf (Dimensi
Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi). Medan. Perdana Publishing.hal 48-52

Komentar
Posting Komentar