Langsung ke konten utama

Akhlak Tasawuf "TUJUAN TASAWUF"

Makalah
AKHLAK TASAWUF
TUJUAN TASAWUF
DISUSUN
Oleh :
Dosen Pengampu :
Dr. Ja’far, M.A


FISIKA
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN SUMATERA UTARA
T.A 2016/2016




Tujuan Tasawuf
            Tujuan tasawuf tersebut tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup manusia sebagaimana dijelaskan daalam ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan suatu tujuan tertentu seperti syhadah, ibadah, khalifah, dan hasanah. Dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan hadis mengenai al-islam, al-iman, dan al-ihsan. Hadis tersebut menjelaskan bahwa ketiga istilahnya membentuk suatu hierarki beragama. Seorang muslim tidak saja dituntut untuk menjalankan al-islam dan al-iman, tapi juga merealisasikan al-ihsan (fainnahu yarooka antakbudaallah kaannaka taroohufain lam takuntaroohu) sebagai hierarki paling tinggi. Jadi, Al-Qur’an dan hadis menghendaki umat islam dapat memantapkan ketauhidan dan ibadah dalam kerangka al-ihsan, dan mengimplemantasikan tugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi demi kebaikan dunia maupun akhirat kelak. Teori dasar dalam agama islam tersebut mendapat perhatian intens dari para ulama bahkan meraih perluasan makna dari mereka. Para sulfi dan filsuf tidak menampik teori dasar tersebut. Mereka mengembangkan tujuan hidup manusia menjadi tujuan dari sebuah perjalanan spiritual.[1]
            Para sufi telah merumuskan tujuan dari tasawuf. Sekedar pemetaan, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa puncak perjalanan spiritual para penempuh jalan tasawuf setelah melewati beragam tingkat spiritual (al-maqamat) adalah kemantapan tauhid dan makrifat. Karya-karya para sufi menguatkan pernyataan tersebut. Seperti disebut al-Qusyairi, Ruwaim bin Ahmad pernah menyatakan bahwa kewajiban pertama dari Allah kepada hambanya adalah makrifah sebagaimana disebut dalam Q.S al-Zariyat/51:56 bahwa jin dan manusia diciptakan untuk liya’budun yang diartikan Ibn Abbas sebagai liya’rifun (makrifat kepada Allah). Junaid al-Baghdadi menyatakan bahwa makrifah (ma’rifah) merupakan awal dari kebutuhan hamba dari hikmah. Pernyataan sufi-sufi tersebut mendukung penegasan bahwa tujuan bertasawuf adalah bermakrifat kepada Allah swt.[2]
            Sebagaimana telah pernah diungkap, pernyataan kaum sufi menegaskan bahwa tasawuf menghendaki pelajar sufi mampu mendekatkan diri kepada Allah, dan memiliki akhlak mulia. Sekedar contoh, Junaid menjelaskan bahwa tasawuf adalah “hendaklah kamu bersama Allah saja, tidak punya hubungan dengan yang lain.” Dalf al-Syibli berkata “seorang sufi itu terputus dari makhluk dan bersambung dengan Allah. Zun al-Nun al-Mishri mengungkapkan bahwa tasawuf adalah “orang-orang yang mengutamakan Allah dari yang lain, sehingga Allah lebih mengutamakan mereka dari yang dari pada yang lain.” Muhammad al-Kattani menjelaskan bahwa “tasawuf adalah akhlak, maka barang siapa yang bertambah baik akhlaknya, maka akan bertambah mantap tasawufnya (semakin bersih jiwanya). Kata-kata sebagian sufi tersebut menunjukkan bahwa tasawuf berupaya mengantarkan penekunannya untuk selalu bersama Allah dalam berbagai keadaan, dan memantulkan akhlak mulia dalam diri pengkajinya sebagai wujud dari kemantapan tauhidnya.
            Pendapat kaum sufi tentang makna ketauhidan sebagai tujuan utama dari mazhab tasawuf dapat dilihat dari pendapat mereka tentang tingkatan (al-maqam) tertinggi yang mungkin dicapai oleh seorang sufi. Mereka melahirkan sejumlah teori mengenai al-maqam tertinggi tersebut sebagai dampak dari perbedaan mazhab di antara mereka. Paling tidak, tasawuf dibagi menjadi dua mazhab, yakni tasawuf akhlaki/amali (berkembang di dunia Sunni) dan tasawuf falsafi (berkembang di dunia Syiah). Mayoritas sufi dari Kalangan Sunni menegaskan bahwa al-maqam tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang sufi hanyalah tingkatan rida (al-ridha). Sejumlah sufi dari aliran tasawuf falsafi memiliki interpretasi berbeda dari mazhab tasawuf yang berhaluan Sunni. Abu Yazid al-Busthami (w. 947 M) mengenalkan teori al-ittihad, Zun al-Nun al-Mishri (w. 860 M) mengenalkan paham al-ma’rifah,al-Hallaj (w. 922 M) dengan teori al-hulul, Ibn’Arabi (w.1240 M)nmengusung wahdah al-wujud, Suhrawardi al-Maqtul (w.1191) mempopulerkan fana’ akbar dan fana dar fana, sedangkan Mulla Shadra (w.1640) mengenalkan teori empat perjalanan (al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Arba’ah) dimana perjalanan keempat sebagai perjalanan spiritual tertinggi yang disebut al-safar bi al-haq fi al-khalaq. Pendapat mereka tentang tauhid dapat dilihat dari teori mereka masing-masing.[3]    






Kesimpulan
            Tujuan daripada Ilmu Akhlak Tasawuf sudah dipastikan dalam penjabaran ketiga buku tersebut bahwasanya bertujuan untuk membentuk sikap dan akhlak sufisme dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan kemantapan ilmu ketauhidan dan makrifat tuhan.




















DAFTAR PUSTAKA
Ja’fr. 2016. Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi). Medan. Perdana Publishing.
Nasution, Ahmad Bangun. 2013. Akhlak Tasawuf ( Pengenalan, Pemahaman dan Pengaplikasiannya). PT. RajaGrafindo Perkasa.
Ni’am, Syamsun. 2014. Tasawuf Studies (Pengantar Belajar Tasawuf). Ar-Ruzz Media.





[1] Ni’am, Syamsun. 2014. Tasawuf Studies (Pengantar Belajar Tasawuf). Ar-Ruzz Media
[2] Nasution, Ahmad Bangun. 2013. Akhlak Tasawuf ( Pengenalan, Pemahaman dan Pengaplikasiannya). PT. RajaGrafindo Perkasa.

[3] Ja’fr. 2016. Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi). Medan. Perdana Publishing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF”

AKHLAK TASAWUF RINGKASAN BUKU “GERBANG TASAWUF DIMENSI TEORETIS DAN PRAKTIS AJARAN KAUM SUFI” DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang       NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Jafar, MA FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2016/2017 TASAWUF: DEFINISI, HIERARKI, DAN TUJUAN    A.     Definisi Taswuf Dalam kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri telah menjelaskan asal-usul tasawuf. Pertama, istilah tasawuf berasal dari kata al-Shuf , yaitu wol. Disebut sufi karena kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba. Kedua, istilah kata tasawuf berasal dari kata al-shaf , yaitu barisan pertama, yang bermakna bahwa kaum sufi berada pada barisan pertama di depan Tuhan, karena besarnya keinginan merekan terhadap Tuhan, kecenderunga hati mereka terhadap-Nya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka dihadapannya. Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuff...

AL-AHWAL; AL-MURAQABAH, AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ

AL-AHWAL; AL-MURAQABAH, AL-KHAUF, AL-RAJA, DAN AL SYAWQ Nama                      : Asnitha Aritonang NIM                        : 0705162018 Prodi                       : FISIKA Fakultas                   : Sains & Teknologi Semester                 : 2 (Dua) Peguruan Tinggi      : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Dosen                      : Dr.Ja’far, MA. Mata Kuliah             : Akhlak Tasawuf TEMA                     :  ...

TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA

HASIL WAWANCARA TOKOH DAN PUSAT TAREKAT SUMATERA UTARA DISUSUN Oleh : Asnitha Aritonang                   NIM :   0705162018 Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, M.A FISIKA Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUMATERA UTARA T.A 2017       A.     Waktu dan Tempat Wawancara Kegiatan wawancara ini dilaksanakan pada : Hari / Tanggal              : Selasa / 13 Juni 2017 Pukul                            : 15:00 WIB- Selesai Tempat                         : Marendal. Kecamatan Patumbak       B...