Makalah
AKHLAK TASAWUF
TASAWUF, HIERARKI ILMU-ILMU ISLAM
DISUSUN
Oleh :
Dosen Pengampu :
Dr. Ja’far, M.A

FISIKA
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN SUMATERA UTARA
T.A 2016/2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat dan hidayah Allah swt
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya. Makalah ini berisikan
tentang hadis dalam etos kerja dan profesionalisme.
Selawat serta
salam semoga senantiasa tercurah untuk junjungan kita Nabi besar Muhammad saw,
beserta keluarga dan sahabatnya hingga akhir zaman, dengan diiringi upaya
meneladani akhlaknya yang mulia.
Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman dan juga
berguna untuk menambah pengetahuan bagi para pembaca.
Makalah ini kami
akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki masih sangat
kurang. Oleh karena itu, kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Medan,
23 Maret 2017
Tasawuf Dalam Hierarki Ilmu-Ilmu Islam
Dikutip dari Buku Gerbang Tasawuf
, dalam Muqqaddimah buku beliau Ibnu Khaldun telah mengulas bahawasanya tasawuf
dikategorikan sebagai sebuah disiplin ilmu.
Dalam ulasan beliau, ditinjau dari segi aspek
sumber, tasawuf dikategorikan sebagai salah satu dari ilmu syariah ,
yakni bersumber dari syariat al-qur’an dan hadis yang tidak melibatkan akal
sebagai pemikiran yang berperan dalam ilmu ini. Meskipun sekarang muncul
sebagai sebuah disiplin ilmu , namun, tasawuf tetap menjadi sebuah ilmu syariat
yang telah dipraktikan sejak zaman nabi muhammad saw yang pada saat itu tasawuf
masih berupa bentuk ibadah semata.
Dari aspek tujuan, pelajar sufi (al-murid)
harus terus meningkatkan kualitas ibadah nya guna mencapai sebuah kemantapan
tauhid dan makrifat.
Dari aspek pembahasan, tasawuf membicarakan
empat pokok persoalan , yaitu :
1.
Pembahasan tentang mujahadah , zauq,
introspeksi diri (muhasabah al-nafs), dan tingkatan – tingkatan spiritual.
2.
Penyingkapan spiritual dan hakikat – hakikat
alam ghaib.
3.
Keramat wali => Bagian kewalian.
4.
Istilah – istilah kaum sufi yang diungkap
secara ‘mabuk’ yaitu terbuka secara gamblang.
Menurut beliau juga seperti yang diungkapkan di
buku, ajaran – ajaran tasawuf banyak mendapat penolakan dari kaum sufi sendiri
yakni kaum fukaha. Namun penolakan ini juga tidak serta merta ditujukan
kepada seluruh jenis ajaran tasawuf.
Kaum sufi lainnya , yaitu Al-Taftazani,
kemudian mengungkapkan , ada 2 jenis pengajaran tasawuf , yaitu :
1. Tasawuf sunni .
Yaitu ajaran yang memagari pengikut nya dengan al-qur’an dan hadis.
2. Tasawuf Falsafi
Aliran yang cenderung kepada ungkapan – ungkapan ganjil (syathahat),
memadukan antara dua visi berbeda yaitu visi mistis dan visi rasional,
banyak menggunakan terminology filosofis, dan di pengaruhi oleh banyak ajaran
filsafat.
Dalam ke-Hierarki-an nya , seperti yang dikutip
dari Buku Akhlak Tasawuf, ilmu tentang akhlak tasawuf ini juga berkaitan
dengan disiplin ilmu lain, yakni ilmu kalam. Dapat dilihat dari segi kemiripan
makna dalam ilmu pembelajarannya yang sama – sama mempelajari tentang ilmu
ketauhidan ( Ilmu Ketuhanan) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
melalui pengajaran dan penerapan sifat – sifat ketuhanan seperti yang
dipelajari kaum sufi kebanyakan.
Dalam tradisi
intelektual Islam, par ulama telah membut klasifiksi ilmu berdasrkan sudut
pandang Islam. Di antara mereka, pendapat Ibnu Khldun cukup penting diutarakan.
Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi dua jenis. Pertama, ilmu-ilmu
hikmah dan filsfta (‘ulum al-hikmiyah al-falsafiyyah) yang diperoleh
dengan akal manusia, dan ilmu yang diajarkan dan ditransformsikan (‘ulum
al-naqliyyah al-wadhi’iyah) yang bersumber kepada syariat Islam (Al-Qur’an
dan Hadis). Ibnu Khaldun mengkategorikan tasawuf sebagai salah satu dari
beragam ilmu-ilmu syariah (‘ulum al-naqliyyah al-wadhi’iyah). Dalam
pembagian ilmu menurut l-Ghzali (w.1111) berdasarkan cara perolehan ilmu,
disebutkan bahwa ilmu terdiri atas dua ilmu yang dihadirkan (‘ilm
al-hudhuri/presential) dan ilmu yang dicapai (‘ilm al-hushuli/attained),
sedangkan tasawuf dikategorikan sebagai ‘ilm al-hudhuri. Ibn
al-Qayyim al-Jauziyah (w. 1350) membagi ilmu menjadi tiga derajat: ‘ilm
jaliyun (didasari observasi, eksperimen, dan silogisme), ‘ilm khafiyun (ilmu
mukrifat), dan ‘ilm laduniyun (didasari ilham dari Allah), dan tasawuf
dikelompokkan kepada ‘llm khafiyun dan ‘ilm laduniyun. Syed
Muhammad Naquib al-Attas membagi ilmu menjadi dua jenis: ilmu pemberian Allah (the
God given knowledge) yang disebut ilmu-ilmu agama (the religious
sciences), dan ilmu capaian (the acquired knowledge) yang disebut
ilmu-ilmu rasional, intelektual daan filosofis (the rational, intellectual
and philosophical sciences), sedangkan tasawuf dikategorikan sebagai
metafisika Islam yang merupakan bagian dari ilmu-ilmu agama (the religious
sciences). Dapat ditegaskn bahwa para ulama menempatkan tasawuf sebagai bagian
dari ilmu-ilmu agama, meskipun sebagian ahli menyebutkan bahwa tasawuf dalam
bentuk tasawuf falsafi dipengaruhi oleh agama dan aliran filsafat
tertentu.
Kesimpulan
Secara Hierarki dan kedudukan nya dalam ilmu –
ilmu islam, tasawuf berada pada tingkatan pembentukan akhlak dan karakter
manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang sama – sama dijelaskan
pada ketiga buku.
Tujuan daripada Ilmu Akhlak Tasawuf sudah dipastikan dalam penjabaran ketiga
buku tersebut bahwasanya bertujuan untuk membentuk sikap dan akhlak sufisme
dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan kemantapan ilmu
ketauhidan dan makrifat tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Ja’fr.
2016. Gerbang Tasawuf (Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi).
Medan. Perdana Publishing.
Nasution,
Ahmad Bangun. 2013. Akhlak Tasawuf
( Pengenalan, Pemahaman dan Pengaplikasiannya). PT. RajaGrafindo Perkasa.
Ni’am, Syamsun. 2014. Tasawuf
Studies (Pengantar Belajar Tasawuf). Ar-Ruzz Media.
Komentar
Posting Komentar